IbnulBahr el-Makassary

Bismillahi el-rahman el-rahim

Metodologi Istimbat Hukum

Metodologi Istimbat Hukum Versi Hanafi[1]

Sebuah pengantar

Oleh: Ahmad Baharuddin

I. Prolog

Upaya-upaya cendikiawan Muslim paska abad klasik dalam meracik metodologi Istimbat hukum sungguh amat penting bagi generasi selanjutnya dan perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi dengan mengkaji dan mengetahuinya secara baik. Tetapi satu hal yang perlu digaris bawahi, bahwa apa yang telah dirumuskan oleh pendahulu tadi bukanlah konstitusi baku apalagi beku yang tidak mengalami perkembangan dan bahkan perubahan defensif[2].

Dalam sejarah perkembangan fiqih ala kaum Sunni kita mengenal sedikitnya ada 4 mazhab yang berpengaruh pada paradigma masa-masa selanjutnya dalam menanggapi sebuah kasus hukum, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, Hanabilah. Abu Hanifah dikatakan sebagai peletak batu pertama kodivikasi hukum melalui ide-ide Fiqihnya dan berbagai eksperimen beliau yang disadari atau tidak sangat berpengaruh pada cendekiawan Muslim era di belakangnya.

Keistimewaan fiqih taqdiri-nya, sikap positif beliau pada Hiyalu Syar’iy, pernyataan beliau terhadap kebolehan ber-ra’yi dan banyak lagi yang lainnya sangat menarik kita bahas sebagai sebuah wacana pengembangan intelektualitas bagi kalangan intelektual muda. Hal ini yang mendorong penulis sangat antusias untuk sedikit mengkaji terma-terma mengenai prinsip dasar metodologi Istimbat hukum menurut Imam Abu Hanifah dalam memformat ide-ide Fiqihnya menjadi sebuah mazhab yang cukup fenomenal.

Semoga usaha sederhana ini memberi kontribusi yang berharga bagi khazanah keilmuan kita, dan menjadi titik tolak pembahasan yang lebih daqiq dalam masalah-masalah Fiqhiyah utamanya dalam metodologi Istimbat hukum dalam perspektif para tokoh.

II. Sejarah Singkat Kodifikasi Ilmu Fiqh

Sejarah perkembangan hukum Islam dapat dibagi ke dalam enam fase[3]. Pertama, pada masa Rasulullah. Kedua, masa sahabat besar. Ketiga, masa sahabat kecil. Keempat, masa kodifikasi. Kelima, Masa Pengokohan Mazhab/sekte. Keenam, masa taklid.

A : Hukum Islam Pada Masa Rasulullah Saw.

Fase pertama ini hanya berlangsung sekitar 22 tahun 2 bulan 22 hari. Namun demikian, secara implisit dapat dikatakan bahwa semua perangkat hukum telah ada pada masa ini.

Hukum pada masa ini dibagi menjadi dua:

a. Wahyu matlu yaitu Al-Qur’an, sebagai patokan utama ketika menginstinbatkkan hukum. Urgensi al-Qur’an dalam menerapkan hukum paling tidak dengan 3 dasar penting;

1. tanpa beban

2. minimalisir kewajiban

3. tadarruj dalam menetapkan hukum

b. wahyu ghairu Matlu, Keterangan Rasulullah yang dikenal dengan Sunnah.

Sementara Ijtihad para sahabat belum dikenal karena persoalan yang terjadi masih ditangani langsung oleh Rasulullah Saw. Indikasi inilah yang menjadi faktor utama sehingga urgensi ijtihad pada zaman Rasulullah belum dikenal. Nah, bagaimana bila terjadi satu kasus di kalangan sahabat, sementara Rasulullah Saw jauh dari mereka..? Dalam kondisi seperti ini, para sahabat melakukan ijtihad sebagai pendekatan persuasif terhadap makna hukum yang dimaksud. Dan ketika bertemu dengan Rasulullah Saw. merekapun menceritakan kejadian itu. Maka pada saat yang sama, Rasulullah Saw. akan menjelaskan hukum masalah yang sebenarnya[4].

Sebagai contoh, ketika Amru bin Ash diutus dalam salah satu peperangan (Perang Dzata as-Salasil) pada tahun keenam Hijriah. Beliau junub, padahal suasana waktu itu sangat dingin sehingga tidak ada kemungkinan untuk mandi. Melihat kondisi itu, Amru bin Ash memutuskan untuk bertayammum lalu shalat subuh bersama sahabat yang lain. Ketika kembali dari peperangan, para sahabat menceritakan kepada Rasulullah Saw. bahwa Amru bin Ash pernah shalat bersama kami dalam keadaan Junub. Akhirnya, beliau dipanggil oleh Rasulullah Saw. seraya bertanya, hai Amru, apa benar engkau pernah shalat subuh dalam keadaan junub..? Amru menjawab, benar, tapi aku bertayammum ketika mengingat firman Allah Swt. yang mengatakan :

]ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما[ ( الآية رقم 29 من سورة النساء )

Artinya : “ Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Swt. adalah maha penyayang kepadamu ”.(QS. an-Nisa 29).

Setelah mendengarkan cerita Amru, Rasululah Saw. hanya ketawa sekaligus membenarkan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.

B : Masa Sahabat Besar (11-40 H)

Fase kedua ini berlangsung sejak wafatnya Rasulullah Saw pada tahun 11 hijriah. Dan berakhir pada akhir tahun 40 hijriah. Masa ini disebut dengan “Ahdu Shighâri as-Sahabah“ karena yang menangani semua persoalan hukum adalah sahabat Rasulullah sendiri. Istimbath Ahkam pada fase ini terbatas pada persoalan eksidentil saja, maka ketika terjadi sebuah kasus baru kemudian hukum itu disampaikan dan selanjutnya diselesaikan secara musyawarah. Tak pelik fatwa yang berasal dari para sahabat besar jumlahnya sedikit.

Karakteristik pada masa ini ada beberapa hal :

a. awal pengumpulan Al-Qu’an dan mencetaknya, serta mendistribusikannya ke beberapa kota-kota besar pada waktu itu.

b. belum adanya perhatian sahabat untuk mengumpulkan hadis.

c. ilmu Fiqh belum mengalami proses pengembangan hukum yang belum terjadi.

d. sahabat jarang mengambil qiyas ketika tidak mendapatkan hukum dalam al-Qur’an dan Sunnah, bahkan mereka mengungkapkannya dengan istilah Ra’yu

e. sebagian shabat berbeda pendapat pada beberapa permasalahan.[5]

Fase ini, juga dikenal sebagai masa penafsiran undang-undang sekaligus merupakan pembuka pintu untuk melakukan istimbat hukum dalam masalah-masalah yang tidak ada dalilnya. Oleh karena itu, muncullah istilah ijtihad kolektif sebagai salah satu cara untuk menentukan konklusi hukum pada setiap problematika yang terjadi. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam berijtihad -ijtihad Fardi- meskipun seorang mujtahid dianggap tidak berdosa ketika melakukan kesalahan dalam memutuskan sebuah kasus. Sumber- sumber hukum yang ada di masa ini adalah al-Qur’an, al-Hadits dan ijtihad para sahabat itu sendiri. Namun demikian, al-Hadits sebagai salah satu sumber hukum, secara spesifik belum ditulis oleh para sahabat kecuali beberapa orang saja, seperti Abdullah bin Amru bin Ash. Dimana beliau dikenal sebagai pemilik shahifah (kitab yang tertulis di dalamnya beberapa hadits Rasulullah Saw) dengan sebutan as-Shadikah[6].

C : Masa Sahabat Kecil (41 – awal abad II H)

Fase ketiga ini berlangsung sejak berakhirnya kekhalifaan Ali bin Abi Thalib. pada tahun 41 hijriah. Dan berakhir pada awal abad kedua hijriah ketika mulai melemahnya daulah Islamyah. Karakteristik masa ini[7] adalah;

a. terpecah-belahnya kaum muslimin akibat pengaruh politik.

b. para sahabat dan ulama mulai bertebaran dari kota Madinah ke beberapa kota besar, dan kemudian memunculkan tabiin setelah generasi mereka.

c. Tersebarnya periwayatan hadits baik shahih maupun palsu

d. Muncul dari jumlah besar kalangan ulama dari maulâ.

e. Lahirnya perdebatan hebat antara ahli Ra’yi dan ahli Hadits

Secara singkat masa ini ulama terbagi menjadi dua kelompok besar; ahli Ra’yi dan ahli Hadits. Namun belum ada kaidah tertentu yang menjelaskan kriteria seorang mujtahid. Hal ini disebabkan karena sampai pada masa ini Fiqh belum berkembang menuju kodifikasi dan penyusunannya.

D : Masa Kodifikasi

Proses pengkodifikasian beberapa disiplin ilmu termasuk hadits-hadits Rasulullah Saw, fatwa para sahabat, tabiin dan tabi tabiin baru dimulai sejak awal abad kedua. Dan berakhir pada pertengahan abad keempat hijriah. Fase keempat ini berlangsung sekitar dua ratus lima-puluh tahun. Begitu pula dengan penulisan ilmu lainnya, seperti tafsir, fiqhi dan beberapa risalah tentang usul fiqhi. Dengan beragamnya indikasi positif di masa ini, ia lebih dikenal dengan istilah masa keemasaan bagi perkembangan hukum Islam.

Karakteristik masa ini[8];

a. Peradaban Islam mulai dikenal luas dan membentang jauh ke beberapa Negara besar di dunia

b. Tumbuh dan berkembangnya budaya intelektulitas dikalangan muslimin .

c. Bertambahnya para huffaz dan pemerhati al-Qur’an

d. Kodifikasi hadits yang dimulai sejak berakhirnya masa sebelumnya

e. Tumbuh dan berkembangnya perdebatan mengenai ushul syariah yang menjadi sumber penyusunan hukum. Dan selain itu pula, munculnya perbedaan dalam memahami manhaj Istimbath al-ahkam, seperti qiyas, istihsan, ra’yu, dan ijma’

f. Kodifikasi ushul Fiqh

g. Lahirnya para pakar dalam ilmu fiqih yang amat dikenal dengan ketaatan dan ketawadhuaannya.

E : Masa Kemunculan Sekte-Sekte dalam Fiqh

Masa ini dimulai sejak awal abad ke empat dan berlanjut sampai jatuhnya daulah Abbasiyah di tangan tentara Tar-tar tahun 656 Hijriah. Karakteristik masa ini[9] ;

a. terputusnya hubungan politik antar daerah Islam

b. mulai berkembangnya nuansa taqlid antara awam dan ulama

c. berkembangnya nuansa jidal dan perdebatan antarilmuan

d. hadirnya mazhab Ismailiy salah satu sekte di syiah yang dikepalai oleh ja’far bin Ismail As-Asshadiq. Kemudian berkembang pesat di daerah maroko dan mesir. Dan membangun mesjid Azhar sebagai lahan keilmuan hingga saat ini.

e. timbulnya fanatisme mazhab antarpengikutnya

F : Masa Taqlid

Masa ini dimulai sejak keruntuhan Bagdad di tangan Holako berbangsa Tar-tar dan terus berkelanjutan sampai sekarang. Masa ini juga lebih dikenal dengan masa taqlid. Karekteristik masa ini adalah[10];

a. mulai berkembangnya taqlid pada kaum awam dan ulama kecuali sedikit dari mereka

b. terputusnya hubungan antara ulama-ulama di berbagai kota. Sehinggan ulama mesir tidak mengetahui sedikit pun mengenai ulama dari India keculai dari buku yang mereka susun

c. terputusnya hubungan kita dengan kitab-kitab para Imam. Ini disebabkan kitab-kitab mereka disimpan oleh para ilmuan tertentu sehingga yang sampai pada kita hanyalah syarah-syarah dan keterangan mengenai kitab itu.

d. Kesalahan dalam ringkasan sebuah kitab. Masa sebelumnya praktek meringkas kitab imam telah dilakukan. Hanya, masa itu ringkasan yang dibuat tidak meninggalkan banyak tanda tanya atau teks yang tidak jelas pada para pembaca. Berbeda pada masa ini, ringkasan kitab meski beberapa kali memerlukan penjelasan dan keterangan hingga bisa dipahami maksdunnya.

Ketika orang-orang Islam dilanda banyak persoalan kompleks maka muncullah nuansa taklid di diri mereka dan bahkan mewabah menjadi fanatisme satu mazhab tertentu. Kerenyangan itu terjadi disebabkan oleh beberapa faktor[11], terutama ketika kehidupan politik dan ekonomi tidak stabil, sehingga semangat untuk melakukan gerakan ijtihad menjadi statis.

Di samping itu, terjadinya kejumudan dalam berfikir yang kemudian menjadi imbas berhentinya semangat ijtihad para ulama disebabkan oleh beberapa masalah. Pertama, terjadinya pemetaan wilayah kekuasan Islam itu sendiri. Artinya, beberapa negeri Islam waktu itu sudah tidak di bawah naungan seorang pemerintah (khalifah) akan tetapi dinaungi oleh beberapa pemerintah sebagai dampak negatif dari perpecahan tadi. Akibatnya, masing-masing negeri Islam yang ada disibukkan oleh urusan dunia semata. Bahkan perang saudara berkecamuk antara satu dengan yang lain sehingga pada akhirnya semangat pengkajian keislaman mengalami dead-lock. Kedua, pada masa ini, alur pemikiran keislaman terbagi ke dalam beberapa sekte, sehingga di satu sisi, kelompok atau mazhab tertentu hanya mengakui kebenaran mazhabnya sendiri. Ketiga, tidak ada satu ketentuan atau berupa kualifikasi mengenai orang-orang yang berhak melakukan ijtihad dalam setiap masalah. Akibatnya, banyak yang melakukan hal tersebut padahal belum tergolong sebagai mujtahid, akhirnya terjadi banyak masalah atau perbedaan interpretasi yang sangat kontras. Dengan fenomena ini, beberapa ulama memutuskan untuk menutup pintu ijtihad, dan hal itupun terjadi pada akhir abad keempat hijriah.

III. Imam Hanafi dan Sejarah Keilmuannya

Dalam sejarah perkembangan fiqhi Islam, mazhab Hanafiah merupakan salah satu mazhab yang pertama dicetuskan. Pendirinya adalah Imam Abu Hanifah Annu’man bin Tsabit bin Zûtha (80-150 H). Mazhab ini tersebar di seluruh dunia Islam termasuk India, Fakistan, Turki, Mesir, Aljazair, Irak dan Siria.

Ayahnya adalah Tsabit bin Zûtha al-Farisi. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau adalah orang babilonia-bukan Faris- dan bahkan sebagian yang sangat fanatik pada beliau menyebut beliau adalah orang Arab asli[12]. Namun sesungguhnya riwayat ini terbantahkan dengan riwayat-riwayat yang kuat yang menisbahkan beliau seorang Farisi.

Menurut Umar cucu Abu Hanifah, kakek Abu Hanifah adalah Zûtha seorang tahanan dan hamba. Sebuah riwayat lain dari cucu beliau juga, Ismail menegaskan bahwa kakek dari Abu Hanifah bukan Zûtha tapi AnNu’man bin Marzaban dan tidak dalam keadaan menjadi budak. Mengkompromikan kedua riwayat tersebut bahwa kakek Abu Hanifah memiliki dua nama, Zutha dan An-Nu’man. Namun bagaimana dengan perbudakannya?. hal ini dijawab oleh Abu Zahra bahwa baik Zutha ataupun AnNu’man ketika Islam menguasai Negara Faris ia dan seluruh warga Faris dipenjarakan namun tetap mendapat kebebasan demi dakwa dan toleransi muslimin terhadap non muslim.

Sebagian besar kehidupan beliau berada di Kuffah sebagai salah satu Negara besar waktu itu dengan segala macam corak keagamaanya dan integritas keilmuannya. Hidup dari keluarga mutadyin, berkecukupan, dan berprofesi sebagai pedagang. Banyak keterangan menyebutkan ayah beliau juga perna bertemu langsung dengan Ali bin Abi Thalib dan mendo’akannya dan keturunannya dengan keberkahan.

Abu Hanifah pada awalnya lebih banyak berinteraksi di pasar sebagai seorang pedagang. Dari tempat itu beliau sering Mujâdalah mengenai persoalan aqidah dengan banyak kelompok yang berbeda dan mengalahkannya. Sementara interaksinya kepada para ulama belum terlihat sampai beliau mendapat pencerahan dari As-Sya’biy agar ia senantiasa lebih banyak berinteraksi dengan para ulama dan mengembangkan keilmuannya. Dari hal tersebut bergegaslah beliau ke halaqât al-ilmi dan mengubah kecondongannya dari ilmu kalam ke ilmu Fiqih. Beliau banyak belajar dari Hammad bin Abi Sulaiman selama 18 tahun hingga akhir hayat beliau. Menurut Abdul Hayy al-Laknawy “ketahuilah mazhab Abu Hanifah banyak mengambil dari para sahabat yang berada di Kuffah dan ulama setelah mereka, dan beliau sendiri banyak mengikuti pendapat Ibrahim an-Nakhâiy”

Syekh beliau yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan keilmuaannya dalam bidang Fiqh adalah Hammad bin Sulaiman maula Ibrahim bin Abi Musa al-Asy’ary dan Ibrahim An-Nakhai yang dikenal paling tau mengenai Ra’y. Pengembaraan keilmuannya juga tidak berhenti disana saja, beliau juga banyak belajar Fiqh as-Sya’by yang lebih dekat ahlu Atsar. Kedua syekh beliau –Ibrahmim dan as-Sya’by- belajar dari Syarih, ‘Alqamah bin Qays, dan Masruq bin al-Ajda’. Mereka juga belajar langsung dengan dua sahabat yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib.

Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh, seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keridhaan Allah SWT. Walaupun demikian orang-orang yang berjiwa jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau[13].

Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar, kerana menurut Imam Hanafi kalau kemungkaran itu tidak dicegah, bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya, melainkan semuanya, termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut

Sebahagian dilukiskan dalam sebuah hadith Rasulullah SAW bahawa bumi ini diumpamakan sebuah bahtera yang didiami oleh dua kumpulan. Kumpulan pertama adalah terdiri orang-orang yang baik-baik sementara kumpulan kedua terdiri dari yang jahat-jahat. Kalau kumpulan jahat ini mau merusak bahtera dan kumpulan baik itu tidak mahu mencegahnya, maka seluruh penghuni bahtera itu akan binasa. Tetapi sebaliknya jika kumpulan yang baik itu mau mencegah perbuatan orang-orang yang mau membuat kerusakan di atas bahtera itu, maka semuanya akan selamat.

Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Ia menolak pangkat dan menolak uang yang diberikan kepadanya. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara ia disiksa, dipukul dan sebagainya.

Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Ibnu Hubairah. Selaku pemimpin ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya. Pernah pada suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal), tetapi pengangkatan itu ditolaknya. Ia tidak mau menerima kedudukan tinggi tersebut. Sampai berulang kali Gubernur Ibnu Hubairah menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.

Pada waktu yang lain Ibnu Hubairah menawarkan pangkat Qadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. Rupanya Ibnu Hubairah tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah, kerana itu timbul rasa curiganya. Oleh kerana itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera. Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya.

Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Hanafi tetap menolak jawatan itu, bahkan ia tetap tegas, bahwa ia tidak mau menjadi pegawai kerajaan dan tidak mau campur tangan dalam urusan negara. Kerana sikapnya itu, akhirnya ditangkap oleh gubernur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.

Akibat dari pukulan itu muka dan seluruh badannya menjadi bengkak-bengkak. Hukuman cambuk itu sengaja untuk menghina Imam Hanafi. Walaupun demikian ketika Imam Hanafi disiksa ia sempat berkata. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.” Ketika ia berusia lebih dari 50 tahun, kepala negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. Imam Hanafi juga menerima ujian. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara, dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah, ketua negaranya bernama Abu Abbas as Saffah.

Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan ketua negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur, saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.

Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur menjadi Qadi (hakim) kerajaan Baghdad dan bersumpah “Abu Hanifah akan menerima kedudukan itu”. Semetara mendengar hal itu Abu Hanifah pun bersumpah tidak akan sekali-kali menerima jabatan itu. Dengan tawaran tersebut, salah seorang pegawai negara bertanya: “Tidak engaku melihat Amirul Mukminin bersumpah?” Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kaffarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya.” Kerana ia masih tetap menolak, maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad.

Pada hari selanjutnya Imam Abu Hanifah dikeluarkan dari penjara kerana mendapat panggilan dari Al-Mansur, tetapi ia tetap menolak. Baginda bertanya, “Apakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin. Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang, maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah, sungguh saya tidak sepatutnya diberi jawatan itu.” Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta, kamu patut dan sesuai memegang jawatan itu.” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Amirul Mukminin, sungguh baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahwa saya tidak patut memegang jawatan itu. Jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab karena berdusta. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya.”

Suatu kali Imam Hanafi dipanggil baginda untuk mengadapnya. Setelah tiba di depan baginda, lalu diberinya segelas air yang berisi racun. Ia dipaksa meminumnya. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Hanafi kembali dimasukkan ke dalam penjara. Imam Hanafi wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun.

Imam Hanafi menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah kerana beliau tidak sesuai dengan corak pemerintahan yang mereka kendalikan. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Hanafi untuk bekerjasama mengikut gerak langkah mereka, dan akhirnya mereka siksa hingga meninggal, kerana Imam Hanafi menolak semua tawaran yang mereka berikan.

IV. Metodologi Istimbat Hukum Versi Hanafi

Sebagaimana yang telah disebutkan mazhab ini dipelopori oleh Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit bin Zûtha (80-150 H). Namun menjadi ciri khas tersendiri diantara mazhab-mazhab yang lain, dalam mazhab Hanafi para pengikut beliau sendiri dapat berbeda pendapat terhadap Abu Hanifah pada banyak hal termasuk persoalan Ushul dan Furu’[14]. Dan perbedaan itu sendiri tetap di tercatat di bawah mazhab Hanafi.

Hal ini perna ditanyakan oleh amir Mekkah Sa’ad bin Zaid pada tahun 1105 H. beliau mengatakan “mengapa dua sahabatnya Abu Yusuf dan Muhammad Hasan dikatakan mazhab Hanafi, mereka masing-masing adalah Mujtahid dalam Ushul Syariah; al-Quran, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas dan juga mereka berpendapat tanpa dikatakan oleh yang lain mengenai sebuah persoalan. Sehingga bagaimana mungkin ketiga mazhab ini adalah satu?”

Syekh Abdul Ghani menjawab hal ini dalam sebuah risalahnya. Pendapat Abu Yusuf dan Muhammad semuanya bersumber dari beberapa pendapat Abu Hanifah, maka tidak salah kalau keduanya dinisbahkan kepada Abu Hanifah.

Persoalan di atas muncul lantaran Abu Hanifa ketika mengajarkan murid-muridnya hukum sebuah kasus dengan sejumlah kemungkinan yang ada. Beliau mempresentasikan pada murid-muridnya tiap kemungkinan tersebut dengan Radd dan Munaqasyah dan selanjutnya beliau mentarjih. Sementara diantara mereka mentarjih yang lain dari sejumlah perkataan Syekhnya tadi[15].

Prinsip Dasar Mazhab Hanafi

A. Fiqh Taqdiry (asumsi)

Sebuah pengenalan hukum melalui asumsi atau mengira-ngira pada kejadian yang belum terjadi. Hal ini banyak dipergunakan oleh ahli Qiyas dan Ra’yi. Mereka berusaha mencari Illat hukum dari al-Qur’an dan Sunnah dan selanjutnya menerapkannya pada kasus yang belum terjadi[16]. Bahkan ada yang mengklaim Fiqih Asumsi versi Hanafi mencapai 60.000 kasus.

Sejarah mencatat dalam kitab tarikh Bagdad Abu Hanifah pernah bertemu Qattadah dan menanyakannya sebuah kasus. Bagaimana pandapat beliau jika seorang suami hilang selama bertahun-tahun, hingga istrinya berasumsi ia telah meninggal dan akhirnya menikah lagi. Kemudian suaminya kembali, bagaiman maharnya ?. Hal ini pernah dibahas oleh Abu Hanifah dengan menyatakan bahwa jika Qattada menjawab hal itu maka pasti berbohong dan jika ia berkata dengan seeanaknya saja tentu ia salah. Qatadah mengatakan “ha… apakah hal ini pernah terjadi”. “Tidak” kata Abu Hanifah. “Mengapa kamu menanyakanku hal yang belum terjadi” lanjut Qattadah. Abu Hanifah menjelaskan “sebelum kasus itu terjadi maka kita mesti siap. Sehingga ketika kasus itu terjadi, kita telah mampu besikap sebagaimana mestinya”[17].

B. Klasifikasi antara Fardhu dan wajib serta haram dan makruh tahrim.

Hanafiyah membedakan antara jenis perintah atau larangan yang proved (tsabit) dengan al-Qur’an dan dengan Sunnah. Ketika perintah itu berlandaskan dalil qat’iy (absolut) maka disebut Fardu. Sedangkan jika dengan dalil dzanny (asumsi) dinamakan Wajib.

Demikian pula larangan dengan dalil qath’iy disebut Haram dan jika dengan dalil dzanny dikatakan makruh tahriman .

Contohnya : hukum berkurban dengan sumber khabar Ahad adalah wajib bukan Fardhu. Dan perintah Shalat lima waktu yang bersumber melalui al-Qur’an adalah Fardhu. Sedangkan larangan menikahi Ibu adalah haram karena melalui nash-nash Qath’iy. Berbeda halnya larangan melamar wanita yang sementara dalam lamaran orang lain atas dalil Dznniy hukumnya Makruh tahriman[18]

C. Sumber hukum Fiqih menurut Hanafiyah ada 7 yaitu

1. Al-Qur’an.

Terjemahan Al-Qur’an

Salah satu cara bagi kaum Muslimin non-Arab yang tidak bisa berbahasa Arab untuk memahami al-Qur’an adalah lewat terjemahan kitab suci itu ke dalam bahasa Ibu mereka. Tetapi, apakah al-Qur’an-yang menyatakan dirinya diturunkan dalam bahasa Arab- bisa diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa non-Arab merupakan suatu masalah yang telah menimbulkan kontroversi akut dan berkepanjangan di dalam sejarah Islam[19] khususnya dalam mazhab Hanafiyah.

Masalah terjemahan ini pertama kali muncul di kalangan pengikut baru Islam asal Persia dalam kaitannya dengan pembacaan al-Qur’an di dalam shalat: Apakah boleh membaca terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Persia ketika shalat? Abu Hanifah mendeklarasikan kebolehannya baik untuk yang mengetahui bahasa Arab ataupun tidak.

Berbeda dengan mazhab Hanfiyah, mayoritas mazhab Sunni lainnya-Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah- menegaskan bahwa teks al-Qur’an mesti dibaca dalam bahasa aslinya, yakni bahasa Arab. Pandangan mazhab Hanafiyah telah memberi tanda bahaya dan bahkan memperkeras gagasan ortodoksi Islam terhadap terjemahan al-Qur’an pada umumnya[20].

Belakangan dikabarkan Abu Hanifah memperlunak pandangannya itu dan menegaskan kebolehannya hanya bagi mereka yang tidak mampu berbahasa Arab. Senada dengan hal itu, Abu Zahra mengungkapkan ketika Abu Hanifah menyampaikan hal itu beliau sementara dalam fase konstruksi ide-ide Fiqihnya, dan beliau melihat kelemahan muslimin asal Faris dalam berbahasa Arab. Namun setelah mereka mampu berbahasa Arab dan merasa takut tersebarnya bid’ah-bid’ah yang bisa merusak kesucian al-Qur’an, beliu kemudian tanâzul dari pendapatnya[21].

Sunnah sebagai Penerang Kekaburan dalam Al-Qur’an

Sumber hukum utama dan pertama dalam Islam adalah al-Qur’an. Kitab suci ini memiliki kekuatan luar biasa yang berada di luar kemampuan apapun: “seandainya Kami turunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah karena gentar kepada Allah”.

Ketika pesan-pesan Ilahi turun kepada nabi Muhammad Saw telah meletakkan basis untuk kehidupan individual dan sosial kaum Muslim dalam segala aspeknya. Al-Qur’an turun dengan dua bentuk, bentuk yang jelas (Qath’iy) dan dalam bentuk yang samar-samar. Hal sama-samar ini tentunya membutuhkan penjelasan sehingga bisa di pahami maknanya.

Dalam hal ini, Hanafiyah mendeklarasikan posisi sunnah sebagai penerang atas kekaburan al-Qur’an ketika hal itu dibutuhkan[22]. Contoh ; keterangan mengenai awal Ramadhan dalam al-Qur’an, (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu (al-Baqarah;185), dijelaskan selanjutnya oleh Sunnah. Rasulullah Saw bersabda berpuasalah ketika melihatnya(hilal) dan berbukalah(lebaran) ketika juga melihatnya.

2. Sunnah

Abu Hanifah mengenai Khabar dari Rasulullah;

a. Hadits Mutawatir dan Hadits Masyhur/Mustafid

Secara umum belum perna ditemukan adanya keterangan yang menyatakan beliau tidak menerima hadits Mutawatir. Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan banyak orang sejak tingkat sahabat, thabiin, dan tabi’ tabiin yang tidak mungkin berdasarkan akal sehat dapat berbohong secara kolektif.

Sedangkan hadits Masyhur adalah hilangnya sebagian syarat Mutawatir di atas yang juga merupakan salah satu jenis hadits Ahad. Yaitu pada tingkat Sahabat dan Tabiin tidak memiliki jumlah yang disyaratkan pada hadits Mutawatir, namun dapat tersebar luas dan diterimah oleh banyak periwayat pada tingkat selanjutnya, yang tidak mungkin berdasarkan akal sehat dapat berbohong secara kolektif. Dalam hal ini Abu Hanifah memiliki pandangan yang sama terhadap hadits Masyhur mengenai kuhujjaannya. Contoh hadits-hadits Masyhur yang menjelaskan bolehnya mengusap khuf/sepatu tanpa melepaskannya. Selain itu hadits Masyhur yang menetapkan hukum rajam bagi pezina yang telah menikah.

b. Khabar Ahad/Wahid

Secara terminologi hadits Ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir. Dalam hal ini hadits Ahad terbagi tiga bentuk; a) Masyhur, b) Aziz, yaitu dalam setiap tingkatan riwayatnya tidak memiliki lebih dari dua periwayat. C) Gharib, adalah yang hanya memiliki seorang periwayat saja[23]. Sehingga dapat disimpulkan yang dimaksud point diatas Khabar Ahad dalam jenis Aziz dan Garib saja.

Abu Hanifah mendeklarasikan kehujjaannya dalam satu waktu pada banyak kasus, namun juga menolak menggunakan hadits Ahad dalam persoalan lain. Bagimana mengkolaborasikan kedua sikap ini atau dengan kata lain apa yang menjadi ukuran justifikasi kedua hal tersebut?.

Prof. Dr. Muhammad Baltaji mantan dekan fakultas Syariah Islamiyah di Universitas al-Qahirah, dalam bukunya mengungkapkan ada dua hal yang menjadi syarat hadits Ahad dalam mazhab Hanafiyah dapat diterimah[24], yaitu :

1. Bebas Kritik Ekstern

1. Islam, bukan seorang kafir.

2. ‘Aql, yaitu kesempurnaan akal. Makanya dalam periwayat anak- anak mereka tidak terimah.

3. Dhabth, ialah pemahaman terhadap apa yang diriwayatkannya dan menjaganya hingga beberapa lama.

4. ‘Adalah, tidak dalam keadaan fasiq

2. Bebas Kritik Intern

a. Tanpa adanya kontradiksi antara subtansi hadits Ahad dengan substansi sumber-sumber hukum sebelumnya, yaitu al-Qur’an, hadits Mutawatir, dan Masyhur. Contoh; Abu Hanifa menolak hadits mengenai Musharrah[25] karena bersinggungan dengan dalil yang lebih kuat. Hal tersebut jika si pembeli mengembalikan ternak yang telah dibelinya dengan khiyar juga menambahkannya dengan satu sha’ kurma atas penipuan yang dilakukan oleh pejual tersebut. Hal ini bertentangan dengan dalil yang lain yang mengharuskan dengan jenis dan jumlah yang sama.

b. Tidak ada kontradiksi antara Sahabat sebagai periwayat hadits Ahad dengan sikap dan amalannya. Karena hal itu dapat menunjukan hadits itu lemah. Misalnya Abu Hanifah menolak hadits Aisyah Ra; tidak sah nikah tanpa wali. Hal ini karena bertentangan dengan amaliyah Aisyah sendiri yang menikahkan kemanakannya tanpa sepengatahuan wali anak tersebut.

c. Periwayat hadits Ahad tidak mengingkari apa yang diriwayatkannya. Contoh Abu Hanifah menolak hadits Rasulullah Saw bersabda siapapun wanita yang menikah tanpa izin walinya maka nikahnya batal. Salah satu periwayat hadits ini adalah az-Zuhry yang mengingakari dan tidak mengetahui asal-usul hadit tersebut.

d. Khabar Ahad tidak ada kaitannya dengan musibah umum[26]. Contoh: hadits Ahad mengenai menyentuh kemaluan dapat membatalkan Wudhu riwayat Bushrah binti Shafwan ditolak oleh Abu Hanifah karena periwayatannya Syâdz sementara sangat urgen untuk diketahui [27].

c. Hadits Mursal

Menurut Istilah hadits Mursal adalah apa yang diriwayatkan oleh Tabi’ atau Tabi’-Tabi’in dari Rasulullah Saw secara langsung tanpa menyebutkan sahabat yang sebenarnya meriwayatkan hadits itu.

Menurut Abu Hanifah hadits Mursal dapat diamalkan dan dinyatakan sebagai hujjah dengan beberapa syarat di atas dalam hal pengambilan hadits Ahad sebagai hujjah. Juga sebagai tambahan disyaratkan substasnsi hadits tersebut telah banyak diterimah secara kolektif.

3. Qaul Shahaby

Salah satu metodologi Abu Hanifah dalam Istimbath Hukum adalah mengikuti fatwa Sahabat ketika tidak ditemukan jawaban sebuah kasus di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Seandainya para sahabat berbeda pendapat mengenai sebuah kasus maka beliau memilih salah satunya dan kalau mereka sepakat maka beliau mengambil pendapat itu.

Contoh: Abu Hanifah memilih pendapat Abu Bakar, Ibn Abbas, Ibn Zubair, dan Aisyah mengenai pewarisan kakek bersama saudara kandung, yang seluruh harta diberikan kepada kakek karena menempati posisi ayah yang telah meninggal. Sementara itu pendapat lain dari Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan Ibn Mas’ud menerangkan pewarisan tersebut masing dibagi dua sama banyak.

4. Ijma’

Sebenarnya kata “ijma” tidak perna dimunculkan sebagai satu masdar hukum tertentu dalam mazhab Hanafiyah. Mereka hanya cendrung mengatakan kesepahaman sahabat mengenai sebuah kasus atau tidak ditemukannya sahabat berbeda pendapat mengenai hal itu. Ini bisa dikategorikan Qaul shahaby.

Juga disebutkan bahwa Ijma’ yang dikenal oleh kalangan ulama-ulama Hanafiyah adalah hadits yang diriwayatkan secara Mutawatir dari Rasulullah Saw. Hal ini juga tidak dikategorikan Ijma’ tapi bagian Sunnah.

5. Qiyas

Dalam rentetan sumber hukum tasyri’ menurut mazhab Hanafiyah, Qiyas menempati posisi setelah al-Qur’an, Sunnah[28], dan Qaul Shahaby. Ketika ketiga sumber pertama ini tidak mampu melakukan konklusi hukum sebuah kasus maka keberadaan analogi(Qiyas) dapat membantu menyelesaikan kasus ini. Beberapa kriteria Qiyas menurut mazhab Hanafiyah[29] adalah :

a. maqiys alaih (obyek analogi) bukan spesifikasi hukum tertentu dari nash. Contoh; Allah Swt telah menetapkan jumlah saksi pada beberapa hal dan hal itu qathi’y. Namun berbeda ketika rasulullah Saw mengabulkan saksi hanya seorang wanita bernama Khuzaymah binti Tsabit[30]

b. maqiys alaih (obyek analogi) tidak termasuk pengecualian.

c. Perubahan hukum dari nash Syari’ yang tsabit dari bentuk asal ke bentuk furu’ tanpa ditemukan kajian hukumnya pada nash tersebut.

d. Tidak mengubah hukum nash awal setelah dipergunakan dalam qiyas.

6. Istihsan

Dalam versi Hanafiyah, Istihsan tak lebih dari sebuah ide keruntuhan analogi rasionalitas karena bersinggungan dengan kekuatan hukum lain yang lebih kuat.

Konsep Istihsan menurut Abu Hanifah adalah;

a. meninggalkan Qiyas karena bersinggungan dengan hadits Rasulullah Saw. Sebuah contoh kasus; tertawa terbahak-bahak pada waktu Shalat membatalkan Wudhu menurut mazhab Hanafiyah. Sementara itu Rasulullah mengatakan “siapa tertawa terbahak-bahak dalam Shalat hendaklah mengulangi Wudhu dan Shalatnya”. Padahal secara analogi (qiyas) ini tidak membatalkan Wudhu sama sekali[31].

b. Batalnya analogi rasionalitas disebabkan konsensus sahabat yang berbeda.

c. Batalnya analogi rasionalitas karena kontradiksi dengan ‘atsar sahabat.

d. Meninggalkan analogi rasionalitas disebabkan amaliyah Shabat yang berbeda.

e. Runtuhnya analogi rasionalitas disebabkan tradisi (‘Urf) di masyarakat yang berbeda.

f. Batalnya analogi rasionalitas dengan anlogi lain yang lebih jelas.

7. Urf Amm

‘Urf/tradisi ialah sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat, diterima oleh akal dan merupakan kebiasaan dikalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan[32]. Antara lain adalah kebiasan pejabat negara menggunakan peci hitam pada setiap acara kenegaraan.

Abu Hanifah dan para sahabatnya sepakat bahwa prinsip dasar arbitrasi (tahkim) ‘Urf adalah ketika tidak ditemukan jawaban pada teks-teks Syar’iy dari al-Qur’an, Sunnah, Ijma, Qiyas, dan Istihsan. Namun mereka berbeda pendapat pada proses arbitrasi ‘Urf itu sendiri karena berbedanya tingkat kebiasaan di berbagai tempat.

Contoh; dua pihak bekerja sama, pihak pertama memberikan sejumlah dana kepada pihak yang lain untuk dimanfaatkan sebagai mana mestinya guna mendapatkan keuntungan.

Suatu waktu pihak kedua melakukan perjalanan jauh dan memanfaatkan barang yang diberikan oleh pihak pertama sebagai pembiayaan dari pekerjaan itu. Pembiayaan itu terdiri dari biaya konsumsi, akomodasi, dan biaya tambahan seperti membeli pewangi, deodorant, cream rambut dan sebagainya. Biaya di atas dibenarkan oleh Muhammad Hasan sebagai proses arbitrasi hukum ‘Urf.

Lain halnya dengan Abu Hanifah dan Abu Yusuf, proses arbitrasi hukum ‘Urf dengan biaya tambahan tadi bukanlah bagian dari pembiayaan yang mesti ditarik dari barang yang diserahkan oleh pihak pertama.

V. Karya-Karya Imam Hanafi dan Pengikutnya

Sebagai salah satu mazhab yang pertama dicetuskan, mazhab ini tersebar di seluruh dunia Islam termasuk India, Fakistan, Turki, Mesir, Aljazair, Irak dan Siria.

Dengan demikian, bila dicermati proses pengembangan mazhab ini, maka dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan[33]. Pertama, tingkatan salaf, yaitu fase pertama – pengembangan mazhab – yang dimuali sejak Imam abu Hanifah sampai Imam Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani. Kedua, tingkatan khalaf, yaitu fase setelah as-Syaibani sampai Imam al-Halwani yang digelar sebagai syamsu al-Aimmah. Ketiga, almutaakhhirun, yaitu, fase setelah Imam al-Halawani sampai pada masa Imam Hafidhuddin al-Bukhari.

Pada masa berikutnya, mazhab Hanafiah telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dan sudah tersebar di mana-mana, sehingga masa ini kadang disebut dengan asru at-Takhrijat, di mana para ulama dalam penulisan sebuah kitab menitikberatkan pada apa yang disebut dengan istilah al-Mukhtasharat, al-Mutun, as-Syuruh dan al-Fatawi[34].

1- al-Mukhtasharat dan al-Mutun adalah merupakan proses rekonstruksi serta pemilahan pendapat Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya – Abu Yusuf dan Muhammad – dengan tujuan memilih pendapat yang paling kuat di antara pendapat-pendapat yang ada untuk dijadikan sebagai landasan mazhab itu sendiri.

2 – as-Syuruh adalah merupakan satu bentuk penjelasan secara rinci dari almuktasarat.

3 – Alfatawi adalah merupakan kumpulan beberapa pendapat atau hasil ijtihad yang dilakukan secara perorangan sebagai proses pengistimbatan hukum yang sama sekali belum pernah disentuh oleh para tokoh mazhab sebelumnya.

Dengan penjelasan di atas, mazhab Hanafiah mempunyai empat referensi penting sebagai landasan mazhab :

  1. Kitab dzahiru ar-Riwayah.
  2. Kitab al-Mutun. Kitab-kitab ini telah dijadikan perhatian khusus dan rujukan oleh para ulama – genersi terakhir – dalam penulisan sebuah kitab, misalnya Mukhtashar al-Qudduri sebagai hasil pemilahan pendapat rajih dari enam kitab induk – dzahir arriwayah- yang telah disebutkan sebelumnya. Kemudian kitab Kanzu ad-Dakhaik. Dan yang terakhir adalah kitab al-Wikayah. Ketiga buku ini biasa disebut sebagai “ al-Mutun ats-Tsalastah ”. Namun, jika dalam mazhab disebut sebagai “ al-Mutun al-Arbaah ” berarti yang dimaksud adalah ketiga nama buku tadi ditambah dengan kitab Majmaul Bahrain.
  3. Kitab as-Syuruh. Sebagai contoh :

- Al-Mabsuut yang ditulis oleh Imam as-Sarahsyi (wft. 483 H) sebagai syarah kitab al-Qafi.

- Badaiu as-Shnaai yang ditulis oleh Imam al-Kasaani (wft. 587 H) sebagai syarah kitab at-Tuhfah.

- Al-Hidayah yang ditulis oleh Imam al-Marginani sebagai syarah kitab al-Bidayah.

- Tabyin al-Hakaik yang ditulis oleh Imam Azzaylai (wft.743 H) sebagai syarah kitab Kanzu ad-Dakaik.

- Al-Inayah yang ditulis oleh Imam Muhammad Albaberti (714-786 H) sebagai sebagai syarah kitab al-Hidayah.

- Fathu al-Qadir yang ditulis oleh Imam Ibnu al-Humam ( wft. 861 H ) sebagai syarah kitab al-Hidayah.

- Al-Bahru ar-Raik yang ditulis oleh Imam Ibnu Najim sebagai syarah kitab Kanzu ad-Dakaik.

  1. Kitab al-Fatawi. Sebagai contoh :

- Al-Fatawi as-Sirajiah yang ditulis oleh Imam Qadi Khan Alhasan bin Mansur.

- Al-Fatawi al-Bazzaziah yang ditulis oleh Imam Muhammad al-Bazzazi.

- Al-Fatawi al-Hindia yang ditulis oleh Imam Nidhamuddin Alburhanaburi.

- Al-Fatawi ad-Dhahiriah yang ditulis oleh Imam Dhahiruddin al-Bukhari.

- Al-Fatawi at-Tarsusiah yang ditulis oleh Imam Najamuddin at-Tarsusi.

VI. Epilog

Konsep metodologi Istimbat hukum yang diterangkan Abu Hanifah sesungguhnya memberi porsi perhatian lebih besar pada hukum praktis ketimbang teoritis. Ini dapat diketahui karena beliau tidak mengkonsep langsung ide-ide Fiqihnya tapi melalui tataran praktek yang beliau amalkan. Dan akhirnya murid-murid beliaulah pada generasi selanjutnya yang menyusun metodologi beliau. Kemampuan menyandingkan keduanya adalah bukti betapa kuat dan dalam pemahaman hukum yang dikuasainya. Lihat misalkan karya beliau dan karya murid-muridnya yang sarat dengan rumusan hukum yang dikemas secara apik.

Studi tentang konsep metodologi Istimbat hukum beliau mustahil untuk bisa diterangkan dan dijelaskan dalam lembaran-lembaran makalah sesederhana ini. Namun sekali lagi, kajian kita hanya melihat sekilas wacana-wacana utama yang bisa dikaji ulang dan dikembangkan mengingat metodologi Istimbat hukum dalam perspektif tokoh, khususnya pada mazhab Hanafiyah yang kita bahas saat ini sebagai wacana yang cukup luas dalam kancah pemikiran hukum Islam. Disamping itu, memberi persepsi akan andil besar yang telah ditorehkan seorang Abu Hanifah dalam pengembangan fiqih pada era beliau dan zaman setelahnya.

Terakhir makalah ini jauh dari kesempurnaan, bahkan dikatakan tidak sistematis dan tidak ilmiah. Masukan dan tambahan, bahkan kritikan nanti yang akan melengkapi semua kekurangan dalam makala ini. Semoga hal ini mudah-mudahan dapat memacu untuk mengkaji lebih dalam dan luas lagi sekitar pembahasan ini. Wallahu a’alam bisshawab

VII. Bibliografi

1. Abu Zaharah, Muhammad. Abu Hanifah Hayatuhu wa Ashruhu-Arâuhu wa Fiqhuhu, Qairo: Darul Fikr al-Araby, 1998.

2. A. rake, Lukman, MA, DR, “Perbandingan dan Referensi Prioritas Mazhab”, dalam Booklet Metodologi Karya Ilmiah ISC KKS, 15 September 2006.

3. Al-Baltaji, Muhammad, Prof. DR. Manahiju at-Tasyri’ Fil Islam, Qairo: Darus Salam, 2007. cet. Ke II.

4. Al-Hafnawiy, Muhammad Ibrahim, Prof. DR. al-Fathul Mubin Fi Ta’rif Mushthalahat al-Fuqaha wal Ushuliyyin, Qairo: Darus Salam, 2007. cet. Ke II

5. al-Qattan, Manna’. Mabahits Fi Ulumil Hadits, Qairo: Maktabah Wahbah, 2004. cet. Ke IV.

6. Amal, Taufik Adnan, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an, Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001. cet. Ke I

7. Bek, Khadary, Syekh, Tarikh Tasyri’ Islami, Qairo: Muassasah al-Mukhtar, 2007. cet. Ke-I.

8. Forum Kajian Baiquni KKS, Kajian Hukum Urf dan Adah, (2007)

9. Jum’ah Muhammad, Ali, Prof. DR. Madkhal Ila Dirasati Mazahib al-Fiqhiyah, Qairo: Darus Salam, 2007. cet. Ke II

10. Muhammad, Ali Jum’ah, Prof. DR. Madkhal Ila Dirasati Mazahib al-Fiqhiyah, Qairo: Darus Salam, 2007. cet. Ke II

11. Muhammad Isa Selamat, “1001 Kisah-Kisah Menyanyat Hati”, dalam artikel Retno Wahyudiaty di Internet, Riwayat Abu Hanifah.

12. Sayyid Al-Kafrawi, As’ad Abd. Ghani, Prof. DR, “A’lam at-Tasyri’ al-Islamiy”., Prof. DR. Ali Jum’ah Muhammad, “al-Mazâhib al-Fiqhiyah fil Islam” dalam Prof. DR. Hamdi Zaqzuq, Silsilah al-Mausuah al-Islamiy al-Mutakhasshashah, Qairo: Departemen Wakaf Mesir, 2006. cet. Ke-I, jilid V.

13. Zaidan, Abd. Karim, DR. al-Wajiz fi Ushulul Fiqh, Bairut: Muassasatur Risalah, 1996. cet. Ke V



[1] Makalah ini dipresentasikan pada hari Senin, 11 Agustus 2008 di Islamic Mission City.

[2] Ini dapat dilihat bahwa Imam Syafi’iy merkonstruksi ide-ide Fiqihnya cukup berbeda dengan yang telah dilakukan oleh Imam Abu Hanifah.

[3] Khadary Bek, Tarikh Tasyri’ Islami, (Qairo: Muassasah al-Mukhtar, 2007), cet. Ke-I, hal. 7

[4] DR. Lukman A. Rake, MA, “Perbandingan dan Referensi Priorotas Mazhab”, dalam Booklet Metodologi Karya Ilmiah ISC KKS, (15 September 2006), hal 15

[5] Prof. DR. As’ad Abd. Ghani Sayyid Kafrawi, “A’lam at-Tasyri’ al-Islamiy”, dalam Prof. DR. Hamdi Zaqzuq, Silsilah al-Mausuah al-Islamiy al-Mutakhasshashah, (Qairo: Departemen Wakaf Mesir, 2006), cet. Ke-I, jilid V, hal. 90

[6] DR. Lukman A. Rake, MA, loc.cit.

[7] Prof. DR. As’ad Abd. Ghani Sayyid Kafrawi, op. cit., hal. 97

[8] Ibid., hal. 110

[9] Ibid,. hal. 127

[10] Ibid., hal. 145

[11] DR. Lukman A. Rake, MA, op. cit., hal 17

[12] Muhammad Abu Zaharah, Abu Hanifah hayatuhu wa Ashruhu-Arâuhu wa Fiqhuhu, (Qairo: Darul Fikr al-Araby, 1998), hal. 15

[13] Muhammad Isa Selamat, “1001 Kisah-Kisah Menyanyat Hati”, dalam artikel Retno Wahyudiaty di Internet, Riwayat Abu Hanifah. Hal. 1

[14] Prof. DR. Ali Jum’ah Muhammad, “al-Mazâhib al-Fiqhiyah fil Islam”, dalam Prof. DR. Hamdi Zaqzuq, Silsilah al-Mausuah al-Islamiy al-Mutakhasshashah, (Qairo: Departemen Wakaf Mesir, 2006), cet. Ke-I, jilid V, hal. 503

[15] Prof. DR. Ali Jum’ah Muhammad, Madkhal Ila Dirasati Mazahib al-Fiqhiyah, (Qairo: Darus Salam, 2007) cet. Ke II, hal. 88

[16] Ibid., hal. 91

[17] Muhammad Abu Zahrah, op. cit., hal 202

[18] DR. Abd. Karim Zaidan, al-Wajiz fi Ushulul Fiqh, (Bairut: Muassasatur Risalah, 1996), cet. Ke V hal. 31 dan 41

[19] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an, (Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001) cet. Ke I, hal. 345

[20] Ibid., hal. 346

[21] Muhammad Abu Zahrah, op. cit., hal 211

[22] ibid., hal 233

[23] Manna al-Qattan, Mabahits Fi Ulumil Hadits, (Qairo: Maktabah Wahbah, 2004) cet. Ke IV, hal. 98

[24] Prof. DR. Muhammad al-Baltaji, Manahiju at-Tasyri’ Fil Islam, (Qairo: Darus Salam, 2007), cet. Ke II, hal. 224

[25] Musharrah adalah mengikat putting susu ternak selama beberapa hari agar dapat menipu pembeli yang menganggap hasil susu hewan ternak tersebut sangat banyak. lihat Fiqh al-Maqârin (diktat kuliah Syariah Islamiyah tk. II, 2008), hal. 467

[26]Komentar Syekh Ahmad Abd. Azim menjelaskan beberapa kajian Fiqih Islam memaksudkan “Musibah umum” pada beberapa kasus yang dapat membatalkan seluruh ibadah kepada Allah Swt secara keseluruhan

[27] Lihat: Prof. DR. Muhammad al-Baltaji, op. cit., hal. 233

[28] Mengedepankan Qiyas (Analogi) ketimbang hadits Ahad ketika tidak sesuai dengan kriteria konklusi hukum menurut Hanafiyah.

[29] Prof. DR. Muhammad al-Baltaji, op. cit., hal. 262

[30] Rasulullah Saw menerima saksinya sebagai penghormatan padanya

[31] Adalah pendapat Imam Syafi’iy dalam menguraikan persoalan Qiyas.

[32] Forum Kajian Baiquni KKS, Kajian Hukum Urf dan Adah, (2007)

[33] DR. Lukman A. Rake, MA, op. cit., hal 18

[34] Ibid.

About these ads

September 10, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: